Rumus Turnover Karyawan Bulanan dan Tahunan
Rumus turnover karyawan Bulanan dan Karyawan merupakan alat ukur krusial yang wajib kamu kuasai jika kamu peduli dengan kesehatan dan stabilitas tim di perusahaan milikmu. Dalam dunia Sumber Daya Manusia (SDM), turnover atau perputaran karyawan adalah fenomena yang selalu terjadi. Namun, tingkat perputaran yang terlalu tinggi bisa menjadi alarm darurat, menandakan masalah mendalam seperti kepuasan kerja rendah, budaya perusahaan yang buruk, atau sistem kompensasi yang tidak kompetitif. Tanpa pemahaman yang tepat tentang cara menghitung turnover rate, perusahaan bisa merugi besar akibat biaya rekrutmen berulang, hilangnya produktivitas, dan menurunnya moral tim yang tersisa.
Apa Itu Turnover Karyawan?
Sebelum terjun ke rumus, mari kita sepakati dulu definisinya. Turnover karyawan merujuk pada tingkat di mana karyawan meninggalkan perusahaan dan perlu digantikan dalam periode waktu tertentu. Peristiwa ini bisa terjadi secara sukarela (inisiatif karyawan) maupun involunter (inisiatif perusahaan).
Para ahli SDM seperti Mathis & Jackson mengklasifikasikan jenis turnover menjadi beberapa kategori, seperti:
- Voluntary vs Involuntary Turnover (Sukarela vs Tidak Sukarela)
- Functional vs Dysfunctional Turnover (Fungsional vs Disfungsional)
Dysfunctional turnover inilah yang paling merugikan, yaitu ketika karyawan berkinerja tinggi dan bernilai justru memilih untuk pergi. Memahami jenis-jenis ini membantu kamu tidak hanya sekadar menghitung angka, tetapi juga menganalisis akar penyebab turnover yang terjadi.
Mengapa Metrik Turnover Rate Sangat Penting untuk Bisnis Milikmu?
Mengukur angka perputaran karyawan bukanlah tugas rutin belaka. Ini adalah proses diagnostik. Tingkat turnover yang tinggi mengindikasikan potensi masalah pada:
- Employee engagement dan kepuasan kerja.
- Kepemimpinan dan manajemen tim yang tidak efektif.
- Compensation and benefit yang tidak lagi kompetitif di pasar.
- Budaya organisasi dan lingkungan kerja yang tidak sehat.
Di sisi lain, menghitung turnover rate secara berkala memberikan manfaat besar. Perusahaan bisa mengestimasi biaya turnover (cost of turnover), merancang program retention strategy yang lebih tepat sasaran, dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas perusahaan serta employer branding. Dengan kata lain, mengelola employee retention dimulai dari pengukuran yang akurat.
Cara Menghitung Turnover Karyawan: Rumus dan Contoh Praktis
Inilah inti dari pembahasan kita. Rumus menghitung turnover pada dasarnya membandingkan jumlah karyawan yang keluar dengan jumlah rata-rata karyawan dalam periode yang sama.
1. Rumus Turnover Karyawan Bulanan
Rumus turnover bulanan ini cocok untuk pemantauan rutin dan cepat.
Turnover Rate Bulanan (%) = (Jumlah Karyawan Keluar dalam Sebulan / Rata-rata Jumlah Karyawan Bulanan) x 100%
Contoh Perhitungan:
Perusahaan milikmu memiliki 102 karyawan di awal April dan 98 karyawan di akhir April. Selama bulan tersebut, 5 orang karyawan mengundurkan diri.
- Rata-rata Karyawan Bulanan = (102 + 98) / 2 = 100 karyawan
- Turnover Rate April = (5 / 100) x 100% = 5%
Artinya, tingkat perputaran karyawan perusahaanmu pada bulan April adalah 5%.
2. Rumus Turnover Karyawan Tahunan
Rumus turnover tahunan memberikan gambaran yang lebih komprehensif dan stabil, mengurangi bias dari fluktuasi musiman.
Turnover Rate Tahunan (%) = (Total Jumlah Karyawan Keluar dalam Setahun / Rata-rata Jumlah Karyawan Tahunan) x 100%
Contoh Perhitungan:
Di awal tahun 2023, perusahaanmu mempekerjakan 120 orang. Di akhir tahun 2023, jumlahnya menjadi 130 orang. Sepanjang tahun, tercatat 18 orang karyawan yang keluar (baik mengundurkan diri maupun diberhentikan).
- Rata-rata Karyawan Tahunan = (120 + 130) / 2 = 125 karyawan
- Turnover Rate 2023 = (18 / 125) x 100% = 14.4%
Angka turnover tahunan sebesar 14.4% ini bisa kamu bandingkan dengan benchmark turnover dari industri sejenis untuk menilai apakah angka tersebut tergolong wajar atau mengkhawatirkan.
Analisis dan Interpretasi Angka Turnover
Sekadar mengetahui cara menghitung persentase turnover belum cukup. Kamu harus menganalisisnya. Pertanyakan angka tersebut:
- Departemen mana yang memiliki turnover tertinggi? Mungkin ada masalah spesifik di tim tertentu.
- Apa jenis turnover yang dominan? Apakah lebih banyak resign atau terminasi?
- Karyawan dengan profil seperti apa yang sering pergi? (misal: masa kerja di bawah 1 tahun, generasi milenial, dll).
- Bagaimana perbandingan angka milikmu dengan rata-rata industri (industry benchmark)?
Dengan menggabungkan data perhitungan turnover dengan wawasan dari exit interview dan survey engagement, kamu akan mendapatkan diagnosa yang jauh lebih akurat untuk menyusun program pengurangan turnover.
Strategi Efektif Menurunkan Angka Turnover yang Tinggi
Setelah kamu mengidentifikasi masalah melalui rumus perhitungan employee turnover, saatnya bertindak. Berikut beberapa strategi yang terbukti efektif dalam manajemen SDM:
- Tingkatkan Proses Rekrutmen: Terdapat kecocokan nilai (value fit) dan harapan yang realistis sejak awal.
- Review Kompensasi dan Tunjangan: Lakukan salary benchmarking secara berkala untuk tetap kompetitif.
- ️Fokus pada Pengembangan Karyawan: Buat jalur karir yang jelas dan investasi pada training dan development.
- Perkuat Kepemimpinan: Banyak karyawan keluar karena atasan, bukan perusahaan. Latih manajer menjadi pemimpin yang suportif.
- Bangun Budaya Perusahaan Positif: Prioritaskan work-life balance, pengakuan (recognition), dan komunikasi transparan.
Ingat, tujuan utamanya bukan nol turnover, karena perputaran yang sehat (healthy turnover) terkadang diperlukan. Tujuanmu adalah meminimalkan dysfunctional turnover dan mempertahankan talenta terbaik milikmu.
Bagikan pandangan ini kepada rekan HR atau pemilik bisnis lain di lingkaranmu untuk membantu mereka mengelola tim dengan lebih efektif!
Baca juga:
- Apa itu Growth Mindset? Cara Mengembangkan dan Manfaatnya
- Apa itu Problem Solving? dan Cara Melatihnya
- 7 Tugas dan Tanggung Jawab Digital Marketing Manager
- Design Thinking Adalah: Tahapan, Manfaat, dan Contoh
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ) tentang Turnover Karyawan
1. Apa perbedaan antara turnover dan absensi?
Turnover mengacu pada karyawan yang benar-benar keluar dari perusahaan dan perlu digantikan. Absensi adalah ketidakhadiran karyawan sementara (seperti sakit atau izin) dengan rencana untuk kembali bekerja. Keduanya adalah indikator masalah yang berbeda tetapi terkadang berakar dari penyebab serupa seperti ketidakpuasan kerja.
2. Berapa angka turnover yang dianggap normal/wajar?
Tidak ada angka universal, karena sangat bergantung pada industri (benchmark industry). Sektor ritel atau hospitality sering memiliki tingkat turnover di atas 30%, sementara sektor teknologi atau finansial mungkin di kisaran 10-15%. Kunci utamanya adalah membandingkan dengan rata-rata industri sejenis dan melihat tren internal dari waktu ke waktu.
3. Apakah turnover selalu buruk bagi perusahaan?
Tidak selalu. Turnover fungsional (seperti keluarnya karyawan berkinerja rendah yang konsisten) dapat membuka peluang untuk talenta baru dan menyegarkan organisasi. Yang perlu diwaspadai dan diminimalkan adalah turnover disfungsional, yaitu kepergian karyawan berkinerja tinggi dan bernilai.
4. Faktor apa yang paling sering menyebabkan turnover sukarela?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor utama meliputi: hubungan buruk dengan atasan langsung (manajer), kurangnya peluang pengembangan karir, kompensasi dan gaji yang tidak kompetitif, serta budaya kerja yang tidak sehat atau beban kerja berlebihan.
5. Selain rumus dasar, metrik SDM apa lagi yang penting untuk dikaitkan dengan data turnover?
Beberapa metrik penting lainnya adalah:
- Cost per Hire: Biaya rata-rata untuk merekrut satu pengganti.
- Employee Engagement Score: Skor dari survei keterlibatan karyawan.
- Time to Fill: Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk mengisi posisi kosong.
- Retention Rate: Kebalikan dari turnover rate, persentase karyawan yang bertahan dalam periode tertentu.
Referensi
- Waspodo, A. A., Handayani, N. C., & Paramita, W. (2017). PENGARUH KEPUASAN KERJA DAN STRES KERJA TERHADAP TURNOVER INTENTION PADA KARYAWAN PT. UNITEX DI BOGOR. JRMSI – Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia, 4(1), 97–115. Retrieved from https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jrmsi/article/view/780
- Irvianti, L. S. D., & Verina, R. E. (2015). Analisis Pengaruh Stres Kerja, Beban Kerja dan Lingkungan Kerja terhadap Turnover Intention Karyawan pada PT XL Axiata Tbk Jakarta. Binus Business Review, 6(1), 117–126. https://doi.org/10.21512/bbr.v6i1.995




