Pengertian Ekonomi Menurut Alfred Marshall, Bapak Ekonomi Neoklasik

Pengertian Ekonomi Menurut Alfred Marshall

Pengertian Ekonomi Menurut Alfred Marshall

Kamu pasti sering mendengar istilah “hukum permintaan dan penawaran”, atau pertanyaan seperti “kenapa harga barang bisa naik-turun?” Di balik pemahaman dasar ekonomi yang kita gunakan sehari-hari, ada sosok jenius yang berjasa merumuskannya: Alfred Marshall. Pemikiran dan pengertian ekonomi menurut Alfred Marshall tidak hanya membentuk fondasi ilmu ekonomi modern, tetapi juga menjadi lensa yang sangat berguna untuk memahami dinamika pasar di sekeliling kita, mulai dari warung kopi hingga pasar saham. Lalu, apa sebenarnya inti dari definisi ekonomi yang ia ajukan, dan mengapa konsep-konsep seperti elastisitas, surplus konsumen, serta periode waktu dalam analisis pasar ini masih menjadi pegangan utama para ekonom, pelaku bisnis, dan pembuat kebijakan?

Sebagai Bapak Ekonomi Neoklasik, Alfred Marshall melihat ilmu ekonomi bukan sebagai sekumpulan teori statis, tetapi sebagai alat hidup untuk menganalisis perilaku manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan dan keinginan dengan sumber daya yang terbatas. Prinsipnya yang tertuang dalam magnum opus-nya, “Principles of Economics” (1890), menandai pergeseran dari analisis ekonomi klasik ke pendekatan yang lebih matematis, analitis, dan berfokus pada unit kecil seperti rumah tangga dan perusahaan.

Siapa Sebenarnya Alfred Marshall?

Alfred Marshall lahir pada 26 Juli 1842 di London. Awalnya, ia adalah seorang ahli matematika berbakat dari Cambridge. Namun, minatnya yang mendalam terhadap masalah sosial dan kemiskinan mengalihkan fokusnya kepada ilmu ekonomi. Ia percaya bahwa ekonomi harus digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, bukan sekadar teori abstrak. Perjuangan intelektualnya membuahkan hasil ketika ia berhasil mendirikan jurusan ekonomi terpisah di Universitas Cambridge pada tahun 1903, sebuah langkah revolusioner yang menjadikan ekonomi sebagai disiplin ilmu yang mandiri dan dihormati.

Inti dari Pengertian Ekonomi Menurut Alfred Marshall

Pengertian ekonomi menurut Alfred Marshall sering dirangkum sebagai sebuah studi tentang manusia dalam urusan kehidupan sehari-harinya (the study of mankind in the ordinary business of life). Ia menekankan bahwa ilmu ekonomi pada intinya mempelajari bagaimana individu dan masyarakat memperoleh pendapatan dan bagaimana mereka menggunakan pendapatan tersebut. Fokusnya ada pada tindakan-tindakan nyata yang dipengaruhi oleh motif ekonomi, di mana uang digunakan sebagai alat pengukur yang nyaman.

Lebih dari itu, Marshall melihat ekonomi sebagai ilmu yang bersifat dinamis dan evolusioner. Ia terkenal dengan pernyataannya bahwa ” Mecca of the economist lies in economic biology rather than in economic dynamics “. Artinya, ia menganggap ekonomi lebih mirip makhluk hidup yang terus bertumbuh, beradaptasi, dan berevolusi — dipengaruhi oleh teknologi, institusi sosial, dan preferensi manusia yang selalu berubah — daripada mesin statis dengan hukum tetap. Pandangan ini membuat teorinya selalu menyertakan dimensi waktu, yang akan kita bahas lebih lanjut.

Konsep-Konsep Kunci yang Diperkenalkan Marshall

Pemahaman tentang definisi ekonomi Marshall tidak lengkap tanpa mengerti konsep-konsep kunci yang ia ciptakan atau populerkan. Inilah warisan intelektualnya yang masih kita pakai:

1. Permintaan dan Penawaran sebagai Penentu Harga

Konsep paling terkenal dari Marshall adalah analisisnya tentang bagaimana harga ditentukan. Ia menyamakan permintaan dan penawaran dengan kedua bilah gunting; keduanya sama-sama penting untuk memotong (menentukan harga keseimbangan). Menurut teori harga Marshall, harga suatu barang akan stabil di titik di mana kuantitas yang ditawarkan produsen sama dengan kuantitas yang diminta konsumen. Analisis grafis dengan kurva permintaan dan penawaran yang saling berpotongan merupakan sumbangan visualnya yang sangat besar bagi dunia pendidikan ekonomi.

2. Elastisitas Permintaan

Marshall memahami bahwa respons konsumen terhadap perubahan harga tidak selalu sama. Untuk mengukur sensitivitas ini, ia memperkenalkan konsep elastisitas permintaan. Elastisitas menggambarkan seberapa besar persentase perubahan permintaan akibat persentase perubahan harga. Konsep ini sangat praktis, misalnya bagi bisnis untuk menetapkan strategi pricing atau bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan pajak.

3. Surplus Konsumen dan Surplus Produsen

Inilah kontribusi besar Marshall pada ekonomi kesejahteraan. Surplus konsumen adalah selisih antara nilai yang kamu berikan pada suatu barang (seberapa besar keinginanmu untuk memilikinya) dengan harga yang benar-benar kamu bayar. Secara sederhana, itu adalah rasa “senang” atau “untung” karena membeli dengan harga yang lebih murah dari yang kamu sangka. Di sisi lain, surplus produsen adalah keuntungan yang didapat produsen karena menjual barang dengan harga pasar yang lebih tinggi daripada harga minimum yang bersedia ia terima. Konsep ini menjadi alat krusial untuk menganalisis dampak kebijakan pemerintah, seperti subsidi atau pajak, terhadap kesejahteraan masyarakat.

4. Analisis Periode Waktu: Pasar, Jangka Pendek, dan Jangka Panjang

Marshall sadar bahwa penyesuaian pasar butuh waktu. Oleh karena itu, ia membagi analisis menjadi tiga periode:

  • Periode Pasar: Sangat singkat, di mana pasokan barang sudah tetap (misalnya, sayuran di pasar pagi hari). Harga sangat ditentukan oleh permintaan.
  • Periode Jangka Pendek: Perusahaan dapat menambah output dengan menambah input variabel (seperti tenaga kerja atau bahan baku), tetapi kapasitas pabrik (modal) tetap. Fokus analisis pada bagaimana biaya produksi berubah.
  • Periode Jangka Panjang: Semua faktor produksi, termasuk modal dan teknologi, dapat disesuaikan. Perusahaan bisa masuk atau keluar dari industri. Pada periode inilah, konsep biaya produksi jangka panjang dan skala ekonomi menjadi sangat penting. Pembagian ini membantu kita memahami mengapa respons pasar terhadap suatu peristiwa bisa berbeda antara hitungan hari, bulan, dan tahun.

5. Pendapatan Nasional dan Faktor Produksi

Dalam pandangan teori ekonomi Marshall tentang makroekonomi awal, ia mendefinisikan pendapatan nasional sebagai hasil bersih dari kerja sama antara tenaga kerja dan modal dalam mengolah sumber daya alam suatu negara selama satu periode tertentu. Ia menekankan kata “neto” atau bersih, yang berarti harus dikurangi dengan penyusutan modal dan kerusakan. Pendekatannya memberi fondasi pada perhitungan pendapatan nasional modern, meskipun dikritik karena dinilai terlalu berfokus pada produksi.

    Relevansi Pemikiran Alfred Marshall di Era Modern

    Kamu mungkin bertanya, untuk apa mempelajari pemikiran seorang ekonom dari abad ke-19 di era big data, cryptocurrency, dan ekonomi platform? Jawabannya adalah: fondasi yang ia bangun sangat kokoh.

    • Seorang pemilik usaha kecil dapat menggunakan konsep elastisitas untuk menentukan strategi diskon. Analisis permintaan dan penawaran membantu memahami fluktuasi harga bahan baku.
    • Ketika pemerintah merencanakan pajak rokok atau subsidi pendidikan, konsep surplus konsumen dan produsen digunakan untuk memperkirakan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.
    • Investor memahami bahwa reaksi harga saham terhadap berita sering kali mengikuti logika penawaran dan permintaan jangka pendek versus jangka panjang.
    • Model bisnis “freemium” di aplikasi bisa dianalisis dengan konsep surplus; pengguna mendapatkan surplus konsumen besar dari versi gratis, sementara perusahaan membidik segmen pengguna dengan willingness to pay tinggi.

    Pemikiran Marshall mengajarkan kita untuk tidak melihat ekonomi sebagai angka mati, tetapi sebagai cerminan dari perilaku manusia yang kompleks, penuh pertimbangan, dan selalu beradaptasi.

    Kritik dan Batasan Pemikiran Marshall

    Tidak ada teori yang sempurna. Teori ekonomi neoklasik ala Marshall mendapat kritik karena dianggap terlalu mengasumsikan manusia sebagai pelaku rasional (Homo Economicus), pasar yang berjalan sempurna, dan kurang memperhatikan faktor kelembagaan, ketimpangan, serta gejolak ekonomi secara agregat (yang kemudian dijawab oleh muridnya, John Maynard Keynes). Namun, justru kritik ini menunjukkan kekuatan pendekatan Marshall sebagai titik tolak yang jelas. Ia menyediakan kerangka dasar yang kemudian dapat diperkaya, dikritik, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

    Sebagai penutup, pengertian ekonomi menurut Alfred Marshall pada hakikatnya adalah sebuah undangan untuk melihat dunia dengan lebih kritis dan analitis. Ia mengajak kita memahami bahwa di balik transaksi sehari-hari, ada prinsip-prinsip ilmiah tentang pilihan, kelangkaan, dan keseimbangan. Dari cara kamu memilih menu makan siang hingga pemerintah menetapkan anggaran negara, logika ekonomi ala Marshall selalu bekerja.

    Bagikan artikel ini kepada teman atau kolega kamu yang mungkin tertarik memahami dasar-dasar ilmu ekonomi! 

    Baca juga:

    Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ) tentang Alfred Marshall

    1. Apa saja buku utama karya Alfred Marshall?
    Buku utamanya adalah “Principles of Economics” yang pertama kali terbit pada tahun 1890. Buku ini menjadi buku teks ekonomi paling berpengaruh di dunia berbahasa Inggris selama beberapa dekade.

    2. Apa perbedaan utama ekonomi klasik dan ekonomi neoklasik yang dipelopori Marshall?
    Ekonomi klasik (seperti Adam Smith dan David Ricardo) lebih menekankan pada sisi penawaran (biaya produksi, tenaga kerja) sebagai penentu nilai jangka panjang. Sementara ekonomi neoklasik (Marshall) mengintegrasikan sisi permintaan (utilitas, preferensi konsumen) dengan penawaran dalam analisis harga, dan menggunakan pendekatan matematis serta analisis marjinal (tambahan).

    3. Konsep elastisitas itu penting untuk apa?
    Konsep elastisitas penting untuk: Strategi harga bisnis (menentukan kenaikan/penurunan harga), kebijakan pemerintah (memperkirakan penerimaan pajak atau dampak subsidi), dan analisis pasar (memahami sensitivitas konsumen terhadap perubahan harga barang tertentu).

    4. Apa yang dimaksud Marshall dengan “periode jangka pendek” dan “periode jangka panjang”?

    • Jangka Pendek: Periode di mana setidaknya satu faktor produksi (biasanya modal/pabrik) tetap, sehingga output hanya bisa ditambah dengan faktor variabel (tenaga kerja). Biaya tetap sudah terlanjur dikeluarkan.
    • Jangka Panjang: Periode di mana semua faktor produksi bisa diubah, termasuk membangun pabrik baru atau mengadopsi teknologi baru. Tidak ada biaya tetap; semua biaya bersifat variabel.

    5. Mengapa Alfred Marshall disebut sebagai Bapak Ekonomi Neoklasik?
    Karena dialiah yang berhasil mensintesiskan ide-ide ekonomi klasik dengan revolusi pemikiran marjinalis (mengenai utilitas dan biaya), merumuskannya dalam kerangka matematis yang sistematis (terutama permintaan-penawaran), dan menuliskannya dalam buku teks yang komprehensif (“Principles of Economics”) sehingga melahirkan aliran utama (mainstream) ekonomi yang baru, yaitu Ekonomi Neoklasik.

    Referensi

    1. Safri, H. (2018). Pengantar ilmu ekonomi. Palopo: Lembaga Penerbit Kampus IAIN Palopo.
    2. Khusaini, M. (2013). Ekonomi mikro: dasar-dasar teori. Universitas Brawijaya Press.
    3. https://www.econlib.org/library/Enc/bios/Marshall.html
    Scroll to Top