Pengertian ekonomi menurut John Stuart Mill, Karl Marx, dan John Maynard Keynes

Pengertian ekonomi menurut John Stuart Mill

Pengertian ekonomi menurut John Stuart Mill, Karl Marx, dan John Maynard Keynes

Pengertian ekonomi menurut John Stuart Mill, Karl Marx, dan John Maynard Keynes mewakili tiga pilar pemikiran yang membentuk cara kita memahami dunia modern. Ketiga filsuf dan ekonom ini tidak hanya mendefinisikan ilmu ekonomi, tetapi juga menawarkan lensa yang berbeda untuk melihat realitas sosial, kekuasaan, dan kebijakan publik. Jika kamu pernah bertanya-tanya mengapa ada perdebatan sengit tentang peran pemerintah atau ketimpangan kekayaan, jawabannya seringkali dapat dilacak kembali ke pemikiran ketiga tokoh monumental ini. Mereka merumuskan definisi yang menjadi fondasi bagi berbagai teori ekonomi, politik, dan filsafat yang masih relevan hingga hari ini.

Memahami Ekonomi dari Tiga Perspektif: Mill, Marx, dan Keynes

1. Pengertian Ekonomi Menurut John Stuart Mill

John Stuart Mill, seorang filsuf dan ekonom politik Inggris abad ke-19, mendefinisikan ilmu ekonomi sebagai ilmu praktis tentang produksi dan distribusi kekayaan. Dalam pandangannya, ekonomi adalah cabang ilmu pengetahuan praktikal atau sains yang mempelajari seluk beluk pemasukan dan pengeluaran, serta kegiatan penciptaan dan penyaluran barang dan jasa. Definisi ini muncul dalam karyanya yang berpengaruh, Principles of Political Economy (1848).

Bagi Mill, fokus kajian ekonomi terletak pada hukum-hukum produksi dan hukum-hukum distribusi. Dia berargumen bahwa hukum produksi bersifat alami dan teknis, seperti prinsip pertumbuhan penduduk atau hasil yang semakin berkurang (diminishing returns). Sementara itu, hukum distribusi bersifat institusional dan sosial—dapat diubah oleh masyarakat melalui kebijakan, adat, dan hukum. Di sinilah letak keunikan dan kemajuan pemikiran Mill. Dia membuka ruang bagi intervensi sosial dalam distribusi kekayaan tanpa mengganggu mekanisme produksi, sebuah pemisahan yang revolusioner pada masanya.

Pemikirannya juga dipengaruhi oleh utilitarianisme, filsafat yang mengukur nilai suatu tindakan berdasarkan kegunaan dan kebahagiaan yang dihasilkannya bagi masyarakat luas. Mill percaya bahwa tujuan akhir aktivitas ekonomi bukan sekadar akumulasi kekayaan, tetapi pencapaian kebahagiaan dan kemajuan moral manusia. Oleh karena itu, dia mendukung reformasi seperti hak suara universal, perserikatan buruh, dan pembatasan jam kerja—kebijakan yang dianggap radikal pada era Revolusi Industri. Pengertian ekonomi menurut John Stuart Mill dengan demikian tidaklah kering; ilmu ini adalah alat untuk meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial.

2. Pengertian Ekonomi Menurut Karl Marx

Beralih ke pemikiran yang lebih radikal, pengertian ekonomi menurut Karl Marx sama sekali berbeda. Bagi Marx, ekonomi bukan sekadar ilmu tentang kekayaan, tetapi ilmu tentang hubungan produksi dan perjuangan kelas. Dalam karya magnum opus-nya, Das Kapital, Marx mendefinisikan ekonomi sebagai studi tentang cara manusia mengorganisir produksi material untuk mempertahankan hidup, dan bagaimana organisasi ini menentukan seluruh struktur masyarakat, politik, dan kesadaran manusia.

Inti dari teori ekonomi Marx adalah analisis mode produksi. Setiap masyarakat, menurutnya, dibangun di atas basis ekonomi tertentu (infrastruktur), yang menentukan superstrukturnya—hukum, politik, agama, dan budaya. Dalam masyarakat kapitalis, mode produksi ditandai oleh kepemilikan sarana produksi (pabrik, mesin, tanah) oleh kelas borjuis (kapitalis) dan eksploitasi tenaga kerja kelas proletar (pekerja) yang tidak memiliki apa-apa kecuali tenaga kerja mereka untuk dijual.

Konsep kunci dalam ekonomi Marxian adalah nilai lebih (surplus value). Nilai lebih adalah nilai yang dihasilkan oleh tenaga kerja pekerja melebihi upah yang mereka terima. Nilai inilah yang kemudian diakumulasi sebagai keuntungan oleh kapitalis, memicu akumulasi modal dan sekaligus eksploitasi. Ekonomi, dalam pandangan Marx, adalah medan konflik kelas yang tak terdamaikan antara borjuis dan proletar. Krisis ekonomi seperti resesi dan depresi adalah kontradiksi internal yang tak terhindarkan dari sistem kapitalis itu sendiri, yang pada akhirnya akan membawa kehancurannya.

Dengan demikian, pengertian ekonomi menurut Karl Marx sangatlah politis dan historis. Ilmu ini adalah alat untuk mengungkap relasi kuasa, ketimpangan, dan dinamika perubahan sosial yang revolusioner. Pandangannya memberikan fondasi bagi kritik terhadap kapitalisme dan inspirasi bagi berbagai gerakan sosialis dan komunisme di seluruh dunia.

3. Pengertian Ekonomi Menurut John Maynard Keynes

Melompat ke abad ke-20, kita bertemu dengan John Maynard Keynes, ekonom yang pemikirannya mengubah kebijakan ekonomi global pasca Depresi Besar 1930-an. Pengertian ekonomi menurut John Maynard Keynes berpusat pada tingkat output dan kesempatan kerja suatu negara, serta pentingnya intervensi pemerintah aktif untuk mencapainya. Dalam buku legendarisnya, The General Theory of Employment, Interest and Money (1936), Keynes menantang doktrin pasar bebas klasik yang percaya bahwa pasar selalu menciptakan keseimbangan penuh lapangan kerja.

Keynes berpendapat bahwa permintaan agregat—total pengeluaran untuk barang dan jasa dalam suatu perekonomian—adalah penggerak utama aktivitas ekonomi. Jika permintaan agregat rendah, perusahaan akan mengurangi produksi, yang berujung pada pengangguran dan resesi. Dalam situasi seperti ini, mekanisme pasar tidak akan secara otomatis memperbaiki diri dalam waktu singkat; ekonomi bisa terperangkap dalam “kesimbangan dengan pengangguran”.

Oleh karena itu, Keynesianisme menekankan peran kebijakan fiskal dan moneter oleh pemerintah. Untuk menstimulasi permintaan yang lesu, pemerintah harus melakukan defisit anggaran dengan meningkatkan belanja publik (misalnya, membangun infrastruktur) atau memotong pajak. Bank sentral juga harus menurunkan suku bunga untuk mendorong investasi. Intinya, pemerintah bertindak sebagai penstabil (stabilizer) yang proaktif untuk meredam fluktuasi siklus ekonomi (business cycle).

Pengertian ekonomi menurut John Maynard Keynes menggeser fokus dari teori mikroekonomi tentang perilaku individu ke makroekonomi—studi tentang keseluruhan perekonomian. Warisan Keynes sangat nyata dalam kebijakan New Deal di AS, pembentukan negara kesejahteraan (welfare state) di Eropa, dan respons berbagai pemerintah terhadap krisis keuangan 2008 dan pandemi COVID-19.

Perbandingan dan Relevansi Ketiganya

Ketiga pengertian ekonomi dari Mill, Marx, dan Keynes ini membentuk segitiga wacana yang masih terus berdebat hingga sekarang.

  • Mill vs. Marx: Mill percaya pada reformasi kapitalisme untuk keadilan, sementara Marx menyerukan revolusi untuk menggulingkannya. Mill melihat negara sebagai wasit yang mungkin perlu turun tangan dalam distribusi, sedangkan Marx melihat negara sebagai alat kelas penguasa.
  • Keynes vs. Klasik (Mill): Keynes menolak gagasan laissez-faire klasik yang dipegang oleh pendahulu seperti Mill (dalam beberapa aspek), dengan berargumen bahwa pasar tidak selalu efisien dan membutuhkan pengelolaan aktif.
  • Marx vs. Keynes: Keduanya mengkritik kapitalisme, tetapi solusinya berbeda. Marx menginginkan sistem baru, sementara Keynes ingin menyelamatkan dan memperbaiki kapitalisme dari dalam melalui manajemen permintaan.

Relevansi mereka hari ini sangat jelas. Diskusi tentang ketimpangan pendapatan dan upah minimum berhutang budi pada analisis Marx dan Mill. Kebijakan stimulus fiskal, bailout, dan peran bank sentral dalam menstabilkan ekonomi merupakan aplikasi langsung dari ajaran Keynes. Pemahaman tentang ekonomi politik dan hubungan antara kekuatan ekonomi dan kekuasaan politik berakar dari ketiganya.

Bagikan artikel ini kepada teman atau diskusikan di media sosial untuk melihat bagaimana ketiga legasi intelektual ini terus hidup dalam percakapan kita sehari-hari. Ingatlah: di balik setiap angka statistik ekonomi, selalu tersembunyi pemikiran panjang seorang Mill, sebuah kritik pedas ala Marx, atau seruan untuk bertindak ala Keynes.

Baca juga:

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apa perbedaan paling mendasar antara pandangan Mill, Marx, dan Keynes tentang ekonomi?
Mill melihat ekonomi sebagai sains praktis produksi dan distribusi yang dapat direformasi untuk kesejahteraan. Marx memandangnya sebagai arena konflik kelas yang akan berakhir dengan revolusi. Keynes memfokuskan pada pengelolaan permintaan agregat oleh pemerintah untuk mencapai stabilitas dan lapangan kerja penuh.

2. Manakah dari ketiga pemikiran ini yang paling banyak diterapkan oleh pemerintah saat ini?
Keynesianisme, dalam bentuk yang telah dimodifikasi (New Keynesian), paling banyak mempengaruhi kebijakan makroekonomi modern, terutama dalam menanggapi krisis. Namun, kebijakan sosial dan perpajakan progresif sering kali mencerminkan semangat reformis Mill, sementara kritik terhadap kapitalisme global banyak mengacu pada Marx.

3. Apakah pemikiran Karl Marx masih relevan di era ekonomi digital?
Sangat relevan. Konsep Marx tentang eksploitasi, akumulasi modal, dan ketergantungan pada sarana produksi dapat diterapkan untuk menganalisis model bisnis platform digital, hubungan kerja gig economy, dan konsentrasi kekayaan di tangan segelintir perusahaan teknologi raksasa.

4. Bagaimana John Stuart Mill menggabungkan ekonomi dengan etika?
Mill, sebagai utilitarian, meyakini bahwa tujuan ekonomi adalah memaksimalkan kebahagiaan (the greatest happiness for the greatest number). Oleh karena itu, distribusi kekayaan yang adil dan kondisi kerja yang manusiawi adalah bagian integral dari tujuan ekonomi, bukan sekadar efisiensi produksi.

5. Apakah kebijakan Keynesian menyebabkan inflasi tinggi?
Kritik utama terhadap kebijakan Keynesian adalah potensinya memicu inflasi jika stimulus dilakukan berlebihan saat perekonomian sudah mendekati kapasitas penuh. Ekonom Keynesian modern menekankan bahwa intervensi harus tepat sasaran dan bersifat sementara (counter-cyclical), serta harus dikombinasikan dengan kebijakan lain untuk mengendalikan inflasi.

Referensi

  1. Jannah, W., Yanti, F., Mayana, N., & Orifanta, A. (2025). Kajian Literatur tentang Pemikiran Ekonomi Klasik Adam Smith. Indonesia Economic Journal, 1(1), 12-16.
  2. Rosita, G. O., Ariffianto, M. U., & Abadi, M. T. (2024). Sejarah pemikiran ekonomi klasik. Jurnal Ilmiah Research Student, 1(3), 368-376.
Scroll to Top